Karakteristik Kerja ala Milenial
Studi PwC mengungkapkan bahwa 72 persen milenial melakukan kompromi sebelum memulai kerja. Sebanyak 38 persen milenial memilih untuk berpindah-pindah tempat kerja, 43 persen terbuka terhadap penawaran baru, dan hanya 18 persen yang berharap bekerja di satu perusahaan dalam rentang waktu lama.
Pengembangan dan keseimbangan hidup lebih penting dibanding penghargaan finansial bagi milenial. Termasuk juga terkait orientasi tujuan yang dipegang teguh oleh milenial. Mereka akan lebih sering mempertanyakan,“Mengapa saya ada di sini?”.
Sebanyak 41 persen milenial mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk berkomunikasi secara elektronik di tempat kerja daripada tatap muka atau melalui telepon. Namun, teknologi sekaligus pola komunikasi ini kerap menjadi penyebab konflik antargenerasi di tempat kerja. Hal tersebut membuat milenial merasa ditahan oleh gaya yang kaku atau ketinggalan zaman.
Milenial yang memiliki mobilitas tinggi menginginkan agenda tugas ke luar negeri lebih sering dibanding generasi sebelumnya. Milenial mengharapkan terbentuknya ekosistem teknologi tempat kerja mencakup jejaring sosial, pesan instan, video-on-demand, blog dan wiki. Alat sosial itulah yang menurut mereka memungkinkan semuanya terhubung, terlibat, dan terkolaborasi untuk produktivitas yang lebih baik.
Tak banyak berbeda dengan generasi sebelumnya, milenial juga mengharapkan kenaikan jenjang karir yang cepat (52 persen). Brand perusahaan yang mereka kagumi menarik dan menjadi pertimbangan bagi para milenial. Pada 2008, sebanyak 88 persen memilih pindah kerja ke tempat yang lebih membanggakan dan 86 persen mempertimbangkan untuk melakukan itu.
Kesejahteraan kerja dan kehidupan mapan juga menjadi hal yang sejatinya didamba milenial. Sebanyak 95 persen responden mengatakan keseimbangan kerja dan hidup penting bagi mereka, 70 persen mengatakan sangat penting.

image: https://alibaba.kumpar.com/kumpar/image/upload/c_fill,g_face,f_jpg,q_auto,fl_progressive,fl_lossy,w_800/nsaimsl5byc2ad4qf6ug.jpg

com-Kesaing Milenial Lain

com-Kesaing Milenial Lain (Foto: Thinkstock)
Menyongsong Masa depan
Masa depan kerja  yang dikendalikan milenial sudah di depan mata. Maka, tidak ada cara lain kecuali menghadapinya. Terlepas dari beragam stigma yang melekat pada milenial, apa yang menjadi potensi milenial dapat dimaksimalkan.
Bagaimana cara milenial agar tepat membentuk masa depan kerjanya? Selengkapnya, kumparan akan merangkumnya dari thenextweb untukmu:
1.      Mengolaborasikan teknologi
Teknologi menjadi kunci bagi milenial dalam menunjang masa depan kerjanya. Milenial adalah generasi yang sedang “bergerak” dan tumbuh dikelilingi oleh teknologi yang berperan besar memfasilitasi hidup mereka.
Sehinga, komunikasi jarak jauh dan teknologi kolaboratif menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan pada Milenial. Misalnya, Skype atau GoToMeeting untuk pertemuan online serta Google Docs untuk membagikan hasil kerja kepada banyak orang dan sebagainya.
Jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Gallup menemukan 43 persen milenial Amerika yang dipekerjakan menghabiskan lebih banyak waktu mengerjakan pekerjaan dari jarak jauh melalui teknologi sepanjang 2016.
Sementara survei FlexJobs tahun 2016 mengemukakan bahwa sepertiga milenial meninggalkan pekerjaan lama hanya karena perusahaan tidak menawarkan fleksibilitas kerja yang cukup dalam pemanfaatan teknologi.
2.      Memberi kesempatan mobilitas yang tinggi dan produktif
Studi menunjukkan bahwa para milenial menyukai pengalaman mengenai banyak hal baru. Statistika contohnya memaparkan bahwa 47 persen milenial lebih suka menghabiskan uang untuk bepergian daripada membeli rumah atau fasilitas mentereng seperti yang disukai generasi sebelumnya. Pola pikir serupa dapat diterjemahkan pimpinan di tempat kerja.  
Menurut survei MMGY Global’s 2016 tentang pelancong Amerika menemukan bahwa 81 persen milenial benar-benar mengaitkan perjalanan bisnis dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi, terlepas dari efek negatifnya dengan hubungan keluarga. Hasilnya, perjalanan bisnis yang diambil milenial akan lebih banyak rata-rata 7,7 persen pertahun dibandingkan generasi sebelumnya.
Bagi milenial, perjalanan bisnis merupakan hadiah dan investasi yang cerdas untuk meningkatkan produktivitas kerja. Hal itu didukung oleh survei dari TINYpulse, pekerja yang melakukan perjalanan bisnis akan merasa jauh lebih bahagia, dihargai, dan lebih produktif dari pekerja rata-rata.
3.      Memprioritaskan tanggung jawab sosial
Menjadi milenial yang dimanjakan dengan teknologi tidak berarti membuat mereka antisosial. Serupa dengan keinginan milenial untuk menikmati kualitas hidup yang baik, mereka juga ingin memastikan hal yang sama bagi orang lain. Hal itu dibuktikan dengan ketertarikan milenial terhadap tanggung jawab sosial.
Menurut Cone Communication pada 2015, sembilan dari sepuluh milenial mengganti merek produk yang mereka gunakan terkait dengan isu-isu sosial yang mereka pedulikan.
Dari hal tersebut kemudian lahir beberapa jenis kegiatan yang fokus pada masalah sosial dan melibatkan milenial. Salah satunya adalah Green Apple, sekolah alam bagi anak-anak yang memberikan pelatihan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).
Mereka memberdayakan kaum minoritas dengan membuka akses pendidikan yang lebih mudah. Green Apple STEM juga mendukung organisasi amal di Chile, Kolombia, dan Puerto Riko. Semua itu berawal dari  kepedulian milenial terhadap isu-isu sosial.
Hai kamu para milenial, sudah siap dengan masa depan kerjamu?

Read more at 
Masa Depan Milenial dalam Dunia Kerja

Rabu, 17 Januari 2018 Motivation
Komentar
Belum Ada Komentar
Tinggalkan Komentar

Testimonial

Pelatihan Gratis Mantap... Selengkapnya

-bima

PPKPI tetap semangat menghadapi Era tahunan 2018... Selengkapnya

-Suryo Handoyo

Masukkan Testimoni Anda tentang PPKPI... Selengkapnya

-Alumni Peserta